International Activity

Pelajar Indonesia di Jepang Ungkap Rahasia Percepatan Jumlah Publikasi Ilmiah Internasional

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Publikasi ilmiah internasional Indonesia menduduki peringkat ketiga se-Asia Tenggara setelah berhasil melewati Thailand di tahun 2017.

Rahasia dibalik percepatan jumlah publikasi ilmiah ini terungkap pada sebuah acara Kuliah Terbuka yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Tokyo Institute Technology (PPI Tokodai), Jepang, hari Rabu, 21 Februari 2018.

“Kuliah terbuka yang dinamakan ‘Zemi Bersama Pakar’ ini merupakan acara rutin PPI Tokodai. Kata ‘Zemi’ itu sendiri merupakan bahasa Jepang yang memiliki arti Seminar. ‘Zemi’ sering digunakan untuk menyebut sebuah acara pertemuan akademik yang dilakukan sebuah kelompok belajar di kampus-kampus Jepang dengan guru pembimbingnya,” ungkap Farid Triawan, Moderator kuliah terbuka itu kepada Tribunnews.com.

Zemi digunakan sebagai sarana bagi para mahasiswa untuk melakukan konsultasi kemajuan penelitian kepada pembimbing secara serempak seperti di sebuah kelas.

“Pada acara Zemi kali ini, PPI Tokodai mengundang dua pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yaitu Dr. Ade Gafar Abdullah dan Dr. Asep Bayu D. Nandiyanto yang sedang melakukan kunjungan penelitian di kampus Tokyo Institute of Technology.”

Acara dimulai pada pukul 13.30 waktu Tokyo dipandu oleh Dr. Farid Triawan sebagai moderator yang juga merupakan staff pengajar di Tokyo Institute of Technology.

Sebagai pembicara pertama, Ade memperlihatkan beberapa data statistik yang menunjukkan kemajuan signifikan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia di 3 tahun terakhir.

“Dalam 3 tahun belakangan ini, universitas-universitas di Indonesia telah berhasil melakukan lompatan tinggi jumlah publikasi ilmiah terindeks scopus. Misalnya UPI, dari 170 jurnal pada tahun 2014, berhasil melompat ke 998 jurnal diakhir tahun 2017,” ungkap Ade yang merupakan Ketua Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana UPI.

Lompatan jumlah publikasi UPI ini terjadi karena UPI membuat tim khusus untuk memberikan pelatihan bahkan kursus privat kepada dosen-dosennya tentang bagaimana membuat karya ilmiah di jurnal intersional terindeks scopus. Lebih dari itu, tim khusus ini juga menjadi pelopor gerakan membuat publikasi ilmiah internasional di universitas-universitas lain di Indonesia.

“Alhamdulillah, di tahun 2017, kami banyak mendapat undangan dari universitas-universitas di Sumatra, Jawa, Kalimantan, sampai NTT untuk berbagi pengalaman dalam meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di scopus. Hasilnya sangat efektif dalam mempercepat jumlah publikasi ilmiah masing-masing universitas itu.” lanjut Ade.

Dalam pemaparannya yang bertema “Strategi Percepatan Publikasi Ilmiah di Indonesia”, Ade menjelaskan bahwa Indonesia masih terkendala dalam jumlah publikasi ilmiah dari bidang Sosial dan Humaniora.

Saat ini, tekannya lagi, publikasi jurnal ilmiah peneliti Indonesia masih didominasi oleh bidang Sains dan Teknologi,

Pemaparan tentang seluk-beluk membuat penelitian bertaraf internasional di Indonesia disampaikan oleh Asep sebagai pembicara kedua.

Asep yang baru 5 tahun aktif mengajar di UPI sudah tercatat sebagai Top 50 Authors di Indonesia versi SINTA (Science and Technology Index).

Dengan umurnya yang relatif masih sangat muda, jumlah publikasi Asep di scopus sudah mencapai 95 artikel.

Dalam presentasinya, beliau mengangkat topik “Senangnya Berkarir Sebagai Dosen Sekaligus Peneliti di Indonesia”.

Asep berpesan kepada para peserta agar tidak ragu pulang bekerja di tanah air karena Indonesia memerlukan banyak peneliti handal untuk bersama-sama mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata intersional.

“Indonesia tidak butuh orang pintar saja, tetapi butuh orang pintar yang dapat bekerja sama,” ujar Asep yang sudah mengadakan 14 kali konferensi internasional hasil kolaborasi UPI dan universitas lain di Indonesia.

Di penghujung acara, kedua pembicara mendorong para peserta yang merupakan pelajar S2 dan S3 untuk meningkatkan produktivitasnya dalam menulis jurnal ilmiah selama masih di Jepang.

Ilmu dan pengalaman menulis itu akan sangat bermanfaat dan dapat dibagikan kepada dosen dan peneliti di Indonesia.

“Saya jadi sangat terpacu untuk belajar lebih giat lagi dalam hal penulisan jurnal intersional selama masih pelajar di Tokyo,” ujar Ahmad Salam salah satu peserta acara.

“Rupanya dukungan dari pemerintah saja belum cukup ya, tapi perlu ada kerjasama yang kompak antara para peneliti di Indonesia untuk bersama-sama berbagi ilmu cara membuat publikasi ilmiah itu sendiri,” ungkap Mushlih ketua PPI Tokodai menceritakan hasil kuliah terbuka tersebut.

Usai presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh peserta dengan banyaknya pertanyaan yang ditanyakan kepada nara sumber sehingga waktu seminar diperpanjang 30 menit.

Setelah sesi tanya jawab, ketua PPI Tokodai, Mushlih Harrik memberikan sertifikat kepada semua nara sumber dan moderator.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pelajar Indonesia di Jepang Ungkap Rahasia Percepatan Jumlah Publikasi Ilmiah Internasional, https://www.tribunnews.com/internasional/2018/02/23/pelajar-indonesia-di-jepang-ungkap-rahasia-percepatan-jumlah-publikasi-ilmiah-internasional?page=3.

Editor: Johnson Simanjuntak

Leave a Reply